(Malam
penuh bintang, cahayanya yang begitu indah menembus melalui celah-celah rumah
sederhana ini, bagaikan suatu kebahagiaan yang sangat diharapkan oleh setiap
orang, termasuk Sari yang sangat mengharapkan kasih sayang seorang ayahnya.
Didalam rumah yang penuh kenangan ini terlihat Sari sedang bersama ibunya)
Ibu : “Sari…..
Ibu punya hadiah buat kamu, coba kamu tebak!”
Sari : “Benar
bu? Apa ibu kasih boneka kesukaan Sari? (tersenyum)
Ibu :
“Memangnya Sari suka boneka apa?”
Sari : “Emmm….
Sari suka boneka yang bulunya lembut sekali seperti yang Sari rasakan saat memegang tangan ibu. (memegang tangan ibu)
Ibu : “Kau
pandai sekali membuat ibu tersenyum nak..” (sambil membelai rambut Sari)
Sari : “Ibu,
hati kecil Sari sebenarnya ingin sekali lihat wajah ibu yang cantik, ayah Sari
yang gagah, dan
orang-orang disekitar Sari. Sari juga ingin lihat dunia bu… Kapan Sari bisa
merasakan itu?
Ibu : “Sari,
ibu tahu perasaanmu nak.. ibu juga ingin.. ingin sekali lihat kamu bahagia.”
Sari : “Sari sudah
bahagia bu, karena Sari punya ibu yang sayang sama Sari.”
Ibu : “Itu
pasti nak, ibu akan selalu menyayangimu”
Sari : “Tapi,
mengapa ayah tak melakukan itu bu? Mengapa kasih sayang Ayah hanya untuk Tia?
Pasti karena Sari buta kan bu?
Ibu : “ Bukan
begitu nak, ayah sayang sama kamu. Bahkan melibihi kasih sayang ibu ke kamu”
Sari : “Kalau
memang benar ayah sayang sama Sari, mengapa Ayah tak pernah sedikitpun memperlakukan Sari sebagai anaknya?”
Ibu : “Ayahmu
hanya belum tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan kasih sayangnya kepada kamu Sar.”
Sari : “Apa ibu
tidak malu punya anak cacat seperti aku?”
Ibu : “Ibu
tidak malu Sari, bagaimanapun keadaanmu, kamu adalah anak kebanggaan ibu. Kamu jangan pernah berfikiran seperti itu lagi
ya?”
Sari :
(menunduk)
Ibu : “Sudah,,,
jangan sedih lagi, ini ibu punya boneka kesukaanmu. Boneka ini ibu buat khusus untuk anak ibu yang cantik.” (mencubit pipi
Sari)
Sari : “Ah Ibu,
(tersenyum malu). Terima kasih ya bu”
Ibu : “Iya
sayang”
(musik……………)
Ibu : “Sari,
ayahmu sudah pulang, kamu masuk kamar dulu.”
Sari : “Baik
bu” (berdiri, meninggalkan ibu)
Ayah :
“Assalamu’alaikum”
Ibu :
“Waalaikumsalam”
Ayah : (duduk
sambil minum air yang sudah tersedia diatas meja)
Ibu : “16 tahun
sudah Sari lahir, dan sekarang dia sudah beranjak remaja. Tapi mengapa kau tak pernah menerima keadaannya? Apa salah Sari
yah? Hingga menyentuhnya saja kau tak mau! (sambil menatap ayah)
Ayah : “Sudahlah
bu, ayah capek! (berdiri). Baru pulang kerja kau malah menceramahi aku, seharusnya kau menyiapkan aku makan. Jangan
dia terus yang kau bicarakan.”
Ibu : “Tapi kau
ayahnya… kau tak pernah mengurusnya.”
Ayah : “Kamu
bilang, aku tidak pernah mengurus anak itu? Siapa yang mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari?”
Ibu : “Dia
tidak hanya butuh makan dan minum. Tapi dia juga butuh kasih sayang darimu!”
Ayah : (dengan
nada tinggi) “Itu tugasmu!!”
Sari : (keluar
kamar) “ Ayah, ibu, jangan bertengkar terus. Sari mohon..(jatuh)
Ibu :
(menghampiri Sari)
Ayah : “Lihat!!
Dia hanya menyusahkan kita. Andai Sari seperti Tia, pastilah kita tidak akan kerepotan.”
Ibu : (membantu
berdiri) “ Ayo nak… biar ibu bantu”
Sari :
(melepaskan tangan ibu) “Sudahlah bu, ibu tidak perlu melakukan ini, aku tidak
pantas mendapatkan kasih sayang dari ayah atau ibu,
aku memang tidak berguna!! (menangis)
Ayah : “Baguslah
kalau kau menyadari itu. Tak perlu aku susah-susah menjelaskannya!”
Ibu : “Kau
tega, ini juga anakmu, darah dagingmu!”
Sari : “Tuhan….
Mengapa dulu aku Kau ciptakan? Mengapa Kau tak ambil saja nyawaku? Untuk apa aku hidup jika aku harus melihat orang tuaku
bertengkar seperti ini hanya karena aku. Tuhan, kapan ayahku bisa menyayangiku? Akankah aku harus
meninggalkan dunia ini untuk bisa merasakan
kelembutan tangan ayah? Apakah harus?? (menangis)
(musik……………..)
Tia : “Ayah
pulang” (sambil menyalami ayah)
Ayah : (melihat
Tia) Lihatlah Tia, dia sudah cantik, pintar. Tidak seperti anak itu!” (sambil
menunjuk Sari)
Tia : “Benar
yah! Tia pun malu punya kakak seperti dia!”
Ibu : “Tia!!
(sedikit membentak) Tidak baik kamu mengatakan seperti itu di depan kakakmu”.
Sari : “Biarlah
bu, semua yang dikatakan ayah dan Tia itu memang benar!”
Ibu : “Kau
tidak boleh seperti itu nak. Ibu menyayangi anak-anak ibu, termasuk kamu Sari.”
Sari : “Tapi
kennyataanya, keluarga ini tidak pernah mengharapkan aku hidup di dunia ini.
Bahkan ayah, Tia,,,,,, (diam), mereka membenciku .
Mengapa dulu aku kau lahirkan bu?”
Ibu :
(merangkul Sari)
Ayah : “Lihatlah
dia, yang dilakukan hanya menangis, menangis dan terus menangis.”
Tia : “Eh
kamu,,, apa yang bisa kamu lakukan dalam keadaan buta seperti itu? Tidak ada
kan?”
Sari : “Tia,
kakak sayang sama kamu.”
Tia : “Tapi
aku tidak!!! Kau itu menyebalkan. Bayangkan!! Tia selalu diejek teman-teman
karena kamu cacat.”
Sari : “Tia….
Kakak memang cacat, andai kakak bisa memilih, pasti kakak ingin seperti kamu.
Cantik, pintar, dan banyak orang yang menyayangi
kakak. Tapi ini sudah kehendak Tuhan, kakak tidak bisa menolak takdir ini.”
Ayah :
“Sudah-sudah ayah pusing dengar celotehan kalian, ayah mau istirahat (masuk
kamar)
Ibu : “Kamu
sudah makan Sar??”
Sari : “Belum
bu,,,”(sambil memalingkan wajah)
Ibu : “Makanlah
dulu…. Nanti kamu sakit nak.”
Tia : “Kenapa
sih bu? Ibu lebih perhatian dengan Sari?”
Ibu : (menghampiri dan memegang pundak Sari) “Ibu
tidak bermaksud seperti itu Tia, seharusnya kamu menyadari keadaan kakakmu yang kurang
beruntung dari kamu.”
Tia : “Memang
kenyataannya seperti itu bu. Ibu pilih kasih (melepaskan tangan ibu dan meninggalkan mereka)
Sari : “Ibu,
Sari merasa selama ini Sari hanya menjadi beban di keluarga ini”
Ibu : “Mungkin
itu hanya pemikiranmu saja Sari.”
Sari : “Tapi
bu……”
Ibu :
“Sssssttttt” (sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sari)
(musik…….)
Tia : “Ibu…..
Tia mau makan”
Sari : “ Ibu
sedang keluar dek… mau kakak ambilkan?”
Tia : (dengan
nada sinis) “Emang kamu bisa?”
Sari : “kakak
akan coba, kamu tunggu sebentar ya?” (meninggalkan Tia)
Tia : “emm…
lama banget sih! Mana perutku sudah laper. Memang repot punya kakak yang tidak bisa diandelin. Bisanya Cuma buat orang emosi
aja!”
Cepetan dong………
Sari : “Iya
dek”
(terdengar suara piring terjatuh)
Ayah : “Suara apa
itu?” (menghampiri Tia dan Sari)
Tia : “Ini nih
yah, Sari jatuhin piring lagi”
Sari :
(memberesi makanan yang tumpah)
Ayah : “Dasar anak
tidak berguna (sambil menampar Sari) Bawa piring aja sampai jatuh, memang tidak becus kamu!”
Sari :
(menangis) “Maafin Sari yah…”
Tia : “Dasar cacat!!!”
Sari : “Kenapa
sih Ayah sama Tia tidak suka dengan Sari?? Aku juga ingin dapat kasih sayang
dari Ayah!”
Ayah : “Bagaimana
Ayah bisa menyayangimu? Coba pikir! Apa yang bisa ayah banggakan dari kamu? (menunjuk kepala Sari). Padahal dlu ayah
sangat berharap kamu menjadi anak kebanggaan ayah. Tapi apa kenyataannya sekarang?”
Sari : “ Maafin
Sari yah, maafin Sari…. Sari sudah mengecewakan ayah.”
Tia : “Tia mau
kebelakang yah, mau makan.”
Ayah : (hanya
diam)
Sari : “Kalau
selama ini Sari hanya menjadi beban di keluarga ini, Sari akan pergi. Biar ayah
tidak merasa terganggu dengan kehadiran Sari.”
Ayah : “Mau kemana
kamu?”
Sari : “Ayah
tidak usah melarang Sari pergi, tidak ada gunanya Ayah memikirkan Sari.”
(meninggalkan ayah)
Ayah : “ Hey
tunggu!! Jangan coba-coba keluar dari rumah ini. Memang kamu tahu apa diluar
sana??”
Sari :
(berhenti sekejap) “Sari tidak tahu apa-apa. Yang Sari tahu hanya Ayah yang
tidak suka denagn kehadiran Sari.” (melangkah kembali)
Ayah : “Dasar keras
kepala!”
Tia : “Sari
mau kemana yah?”
Ayah : “Ayah tidak
tahu. Sudahlah kamu jangan tanya ayah terus, ayah pusing.”
Tia : “Tapi
yah… nanti kalau Sari tidak tahu jalan pulang, terus dia diculik orang
bagaimana?”
Ayah : “Tia!! Diam
kamu!! (menatap Tia), ayah ini pusing! Ayah bingung. Kamu jangan menambahi beban ayah terus! Lagian, sejak kapan kamu
peduli dengan kakakmu?”
Tia : “Ayah
jahat! Ayah sama seperti Ibu, selalu belain Sari”
Ayah : “Kamu
jangan seperti anak kecil”
Tia : “Ayah
dan ibu pilih kasih!” (masuk kamar)
(musik…..)
Ibu : “Ayah
mengapa melamun?”
Ayah : “Tidak
apa-apa. Ayah hanya sedang sakit kepala.”
Ibu : “Ayah
memikirkan Sari?”
Ayah : “Tidak!!”
Ibu : “Lalu
mengapa ayah melamun?”
Ayah : (sedikit marah)
Sudah ayah bilang, ayah tidak apa-apa.”
Ibu : “Ya
sudah,,,,,, Ibu mau kebelakang sebentar, nanti ibu kembali.”
(musik….)
Ibu :
“Tia……………”
Tia : “Iya
bu..” (mendekat ke ibu)
Ibu : “Kamu
tahu kakakmu dimana? Sejak tadi ibu tidak melihatnya.”
Tia : “Tia
tidak tahu bu”
Ibu : (memandang
ayah) “ayah tahu kan?”
Ayah : “Ayah tidak
tahu! Sudah jangan sebut nama itu lagi!”
Ibu : “Ayah
kenapa sih? Apa ayah tidak memikirkan Sari? Dari dulu ayah tidak pernah memperhatikan Sari.”
Ayah : “Ibu pikir,
ayah tidak memikirkan perasaan Sari? Apa ibu tidak ingat? Siapa yang
menggendong Sari tengah malam kerumah sakit, saat dia
masih kecil? Apa ibu tidak ingat, siapa yang mati- matian mencari Sari saat dia tidak pulang?”
Ibu :
(memalingkan muka)
Ayah : “Sudah lama
ayah bersabar bu, ayah mencoba menerima keadaannya, tapi ayah tidak bisa!”
Ibu : “Kenapa
tidak bisa yah?”
Ayah : “Entahlah”
Ibu : “Sekarang
Sari dimana?”
Ayah : “Dia keluar
dari rumah”
Ibu : “Kapan?”
Tia : “Tadi
ayah yang mengusir Sari bu”
Ayah : “Apa-apaan
kamu? Mengapa kamu menyalahkan Ayah? Dia keluar karena kemauannya”
Ibu : “Apa yang
terjadi tadi? Jelaskan pada Ibu Tia”
Tia : “Tadi
Sari mengambilkan makan Tia, tapi piringnya malah jatuh, terus ayah memarahi
Sari.”
Ibu : “Lihat
apa yang ayah lakukan! Gara-gara Ayah, sekarang Sari keluar dari rumah. Kenapa
ayah tidak melarangnya? Sekarang kita cari dimana
yah?” (ibu mulai gelisah)
Tia : “Bu……….”
Ibu : “Diam
kamu Tia! Puas kamu melihat kakakmu menderita!”
Tia : “Tahu ah
bu, Tia terus yang disalahkan.” (meninggalkan ibu)
(musik…………….)
Ibu : “Sari…
kamu dimana nak? Pulanglah….. Ibu kangen sama kamu, (menangis). Sari, ibu janji
suatu saat nanti kita akan melihat bintang bersama,
malam ini tak akan terulang lagi Sari, bintang pada malam ini akan jauh lebih indah besok,
setelah kau pulang ke rumah ini nak.. Ya Allah, lindungilah
anakkku…….”
Ayah : “Bu, ayah
minta maaf. Ayah menyesal, seharusnya ayah tidak berbuat seperti itu pada
Sari.”
Ibu :
“Sudahlah, ayah tak perlu menyesali. Ini semua sudah terjadi, sekarang yang
harus kita pikirkan bagaimana caranya agar Sari bisa kembali.”
Tetangga :
(menggendong sari) “Pak Tadi saya menemukan Sari terkapar di pinggir jalan.
Entah apa yang dia lakukan, jadi saya memutuskan
untuk membawa dia pulang.”
Ibu : “Ya ALLAH
Sari… kamu kenapa nak? Yah… anak kita kenapa ini? (sambil menidurkannya di lantai)
Ayah : “Maafin
ayah Sari, ayah selalu membuatmu sedih. Ayah…… (menangis), ayah memang tidak berguna! Kau boleh membunuh ayah, bunuhlah
ayah sekarang Sari.
Tia :
(menangis) “Kak….. kak Sari…. Dengarkan suara Tia kak. Tia juga sayang sama
kakak, kakak sayang kan sama Tia??? Sekarang bangun kak,
kakak tidak boleh seperti ini….”
Ibu : “Sabar
ayah, Tia. Ini ujian untuk keluarga kita. Dan Sari pasti memafkan kalian.”
Tetangga : “Benar
pak Toni, Sari akan lebih sedih jika lihat kalian menangis
Sari :
“Ayah,,,,,,Ibu,,” (mulai sadar)
Ayah dan Ibu : “Iya
nak, kami disini”
Ayah : “Ayah akan
selalu menemanimu nak.”
Sari :
“Ayah,,,, maafin Sari..”
Ayah : “Kamu tidak
perlu minta maaf Sari, ayah yang salah, ayah yang membuat kamu seperti ini.”
Sari :
(tersenyum sambil menguusap air mata ayah) “Ayah jangan menangis ya…. Ayah, Tia
mana?
Tia : “Kak ini
tia,,,,,,,,, maafin Tia juga ya kak.”
Sari :
(menganggukkan kepala) “Kenapa kalian semua menangis? Apa yang terjadi pada
Sari bu?
Ibu : “Kamu
ditemukan bu Priyo dipinggir kalian dalam keadaan pingsan, apa yang terjadoi dengnmmu nak? Katakan pada ibu”
Sari : “Siapa
yang membawa Sari pulang bu? Biarkan Sari pergi dari rumah ini”
Ayah : “Jangan
berkata seperti itu Sar, sekali lagi tolong maafkan ayah, ayah telah menyesali perbuatan yang telah ayah lakukan kepadamu
nak..”
Ibu : “Sari
jangan pergi……….. ibu tidak ingin kamu seperti ini lagi nak..”
Ayah : “Iya Sari,
mulai sekarang ayahakan selalu menyayangimudan menerima kekuranganku
Sari :
“Terimakasih ayah…… ibu…………..
(mereka pun berpelukan)