Pada waktu tanah jawa masih dijajah
oleh kompeni belanda, dan para pemimpin sebuah kerajaan yang tidak mau membantu
pemimpin belanda Mereka dianggap oleh belanda sebagai musuh mereka. Sewaktu
belanda singgah di kabupaten lasem dan pemimpin kabupaten lasem yang bernama
Panji Margono, beliau masuk dalam daftar pemimpin yang tidak mau menurut atau
membantu kompeni belanda. Karena itu beliau menjadi musuh kompeni belanda
sampai beliau dikeluarkan dari kabupaten lasem dan diasingkan di desa Manunggal
bersama rakyat-rakyat kecil.
Semenjak Panji Margono diasingkan
dan beliau menyamar menjadi rakyat kecil, beliau bersama anak buahnya atau para
prajurit yang ikut diasingkan karena mereka membela Panji Margono itu membuat
sebuah desa kecil (padepokan/pondok) di pinggiran sungai Sambong. Semakin lama
semakin banyak orang yang ikut menghuni disekitar desa kecil (padepokan/pondok) itu. Panji Margono bersama
rakyat-rakyat yang lainnya hidup rukun dan gotong royong sehingga membuat
suasana di tempat itu terlihat tambah damai dan ramai. Semenjak tempat itu atau
desa kecil itu terlihat bersih dan asri, dengan pemimpin Panji Margono bersama
ki Mursada pengikut Panji Margono yang sangat setia kepada Panji Margono. Suatu
hari para warga bersama-sama dengan panji Margono dan ki Mursada mengadakan
kerja bakti.
Pada waktu para warga sedang
membersihkan semak-semak belukar. Di sekitar semak-semak belukar itu terdapat
sebuah pohon besar yang orang-orang sekitar itu menyebutnya dengan pohon Doro.
Ki Mursada bersama para warga lain membersihkan dahan-dahan dari pohon tersebut
yang sangat rimbun itu menjadi pohon yang sangat asri. Setelah pohon tersebut
dibersihkan, kemudian disekitar pohon tersebut diberi oleh para warga pagar
dari bambu hingga menjadi sebuah kandang. Setelah Panji Margono bersama para
warga lain selesai membersihkan tempat itu mereka semua merasa sangat lelah
karena seharian membersihkan semak-semak belukar. Kemudian mereka semua
beristirahat dibawah pohon doro tadi. Disekitar tempat para warga beristirahat,
panji Margono juga terlihat lelah dan duduk bersama dengan warga lain. Disela
istirahat para warga, Panji Margono berkata kepada para warga yang berbunyi “
hey, para rakyatku kalian ingat-ingat jikalau besok dengan bergantinya jaman dan
jaman pun lebih baik. Sebagai pengingat kalian semua tempat ini dan sekitarnya
saya namakan DOROKANDANG”. Sejak saat itu dan sampai sekarang tempat itu
bernama desa Dorokandang.