Jumat, 20 September 2013

Drama




                                             Apa Salahku Ayah???


                (Malam penuh bintang, cahayanya yang begitu indah menembus melalui celah-celah rumah sederhana ini, bagaikan suatu kebahagiaan yang sangat diharapkan oleh setiap orang, termasuk Sari yang sangat mengharapkan kasih sayang seorang ayahnya. Didalam rumah yang penuh kenangan ini terlihat Sari sedang bersama ibunya)
Ibu         : “Sari….. Ibu punya hadiah buat kamu, coba kamu tebak!”
Sari         : “Benar bu? Apa ibu kasih boneka kesukaan Sari? (tersenyum)
Ibu         : “Memangnya Sari suka boneka apa?”
Sari         : “Emmm…. Sari suka boneka yang bulunya lembut sekali seperti yang Sari rasakan saat                                                    memegang tangan ibu. (memegang tangan ibu)
Ibu         : “Kau pandai sekali membuat ibu tersenyum nak..” (sambil membelai rambut Sari)
Sari         : “Ibu, hati kecil Sari sebenarnya ingin sekali lihat wajah ibu yang cantik, ayah Sari yang gagah,                         dan orang-orang disekitar Sari. Sari juga ingin lihat dunia bu… Kapan Sari bisa merasakan itu?
Ibu         : “Sari, ibu tahu perasaanmu nak.. ibu juga ingin.. ingin sekali lihat kamu bahagia.”
Sari         : “Sari sudah bahagia bu, karena Sari punya ibu yang sayang sama Sari.”
Ibu         : “Itu pasti nak, ibu akan selalu menyayangimu”
Sari         : “Tapi, mengapa ayah tak melakukan itu bu? Mengapa kasih sayang Ayah hanya untuk Tia? Pasti                 karena Sari buta kan bu?
Ibu         : “ Bukan begitu nak, ayah sayang sama kamu. Bahkan melibihi kasih sayang ibu ke kamu”
Sari         : “Kalau memang benar ayah sayang sama Sari, mengapa Ayah tak pernah sedikitpun                                        memperlakukan Sari sebagai anaknya?”
Ibu         : “Ayahmu hanya belum tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan kasih sayangnya                               kepada kamu Sar.”
Sari         : “Apa ibu tidak malu punya anak cacat seperti aku?”
Ibu         : “Ibu tidak malu Sari, bagaimanapun keadaanmu, kamu adalah anak kebanggaan ibu. Kamu                           jangan pernah berfikiran seperti itu lagi ya?”
Sari         : (menunduk)
Ibu         : “Sudah,,, jangan sedih lagi, ini ibu punya boneka kesukaanmu. Boneka ini ibu buat khusus                            untuk anak ibu yang cantik.” (mencubit pipi Sari)
Sari         : “Ah Ibu, (tersenyum malu). Terima kasih ya bu”
Ibu         : “Iya sayang”
(musik……………)
Ibu         : “Sari, ayahmu sudah pulang, kamu masuk kamar dulu.”
Sari         : “Baik bu” (berdiri, meninggalkan ibu)
Ayah      : “Assalamu’alaikum”
Ibu         : “Waalaikumsalam”
Ayah      : (duduk sambil minum air yang sudah tersedia diatas meja)
Ibu         : “16 tahun sudah Sari lahir, dan sekarang dia sudah beranjak remaja. Tapi mengapa kau tak                           pernah menerima keadaannya? Apa salah Sari yah? Hingga menyentuhnya saja kau tak mau!      (sambil menatap ayah)
Ayah      : “Sudahlah bu, ayah capek! (berdiri). Baru pulang kerja kau malah menceramahi aku,                                       seharusnya kau menyiapkan aku makan. Jangan dia terus yang kau bicarakan.”
Ibu         : “Tapi kau ayahnya… kau tak pernah mengurusnya.”
Ayah      : “Kamu bilang, aku tidak pernah mengurus anak itu? Siapa yang mencukupi kebutuhan                                                   hidupnya sehari-hari?”
Ibu         : “Dia tidak hanya butuh makan dan minum. Tapi dia juga butuh kasih sayang darimu!”
Ayah      : (dengan nada tinggi) “Itu tugasmu!!”
Sari         : (keluar kamar) “ Ayah, ibu, jangan bertengkar terus. Sari mohon..(jatuh)
Ibu         : (menghampiri  Sari)
Ayah      : “Lihat!! Dia hanya menyusahkan kita. Andai Sari seperti Tia, pastilah kita tidak akan                                           kerepotan.”
Ibu         : (membantu berdiri) “ Ayo nak… biar ibu bantu”
Sari         : (melepaskan tangan ibu) “Sudahlah bu, ibu tidak perlu melakukan ini, aku tidak pantas                                                  mendapatkan kasih sayang dari ayah atau ibu, aku memang tidak berguna!! (menangis)
Ayah      : “Baguslah kalau kau menyadari itu. Tak perlu aku susah-susah menjelaskannya!”
Ibu         : “Kau tega, ini juga anakmu, darah dagingmu!”
Sari         : “Tuhan…. Mengapa dulu aku Kau ciptakan? Mengapa Kau tak ambil saja nyawaku? Untuk apa                    aku hidup jika aku harus melihat orang tuaku bertengkar seperti ini hanya karena aku. Tuhan,         kapan ayahku bisa menyayangiku? Akankah aku harus meninggalkan dunia ini untuk bisa    merasakan kelembutan tangan ayah? Apakah harus?? (menangis)
(musik……………..)
Tia          : “Ayah pulang” (sambil menyalami ayah)
Ayah      : (melihat Tia) Lihatlah Tia, dia sudah cantik, pintar. Tidak seperti anak itu!” (sambil menunjuk                       Sari)
Tia          : “Benar yah! Tia pun malu punya kakak seperti dia!”
Ibu         : “Tia!! (sedikit membentak) Tidak baik kamu mengatakan seperti itu di depan kakakmu”.
Sari         : “Biarlah bu, semua yang dikatakan ayah dan Tia itu memang benar!”
Ibu         : “Kau tidak boleh seperti itu nak. Ibu menyayangi anak-anak ibu, termasuk kamu Sari.”
Sari         : “Tapi kennyataanya, keluarga ini tidak pernah mengharapkan aku hidup di dunia ini. Bahkan                        ayah, Tia,,,,,, (diam), mereka membenciku . Mengapa dulu aku kau lahirkan bu?”
Ibu         : (merangkul Sari)
Ayah      : “Lihatlah dia, yang dilakukan hanya menangis, menangis dan terus menangis.”
Tia          : “Eh kamu,,, apa yang bisa kamu lakukan dalam keadaan buta seperti itu? Tidak ada kan?”
Sari         : “Tia, kakak sayang sama kamu.”
Tia          : “Tapi aku tidak!!! Kau itu menyebalkan. Bayangkan!! Tia selalu diejek teman-teman karena                         kamu cacat.”
Sari         : “Tia…. Kakak memang cacat, andai kakak bisa memilih, pasti kakak ingin seperti kamu. Cantik,                    pintar, dan banyak orang yang menyayangi kakak. Tapi ini sudah kehendak Tuhan, kakak tidak                             bisa menolak takdir ini.”
Ayah      : “Sudah-sudah ayah pusing dengar celotehan kalian, ayah mau istirahat (masuk kamar)
Ibu         : “Kamu sudah makan Sar??”
Sari         : “Belum bu,,,”(sambil memalingkan wajah)
Ibu         : “Makanlah dulu…. Nanti kamu sakit nak.”
Tia          : “Kenapa sih bu? Ibu lebih perhatian dengan Sari?”
Ibu         :  (menghampiri dan memegang pundak Sari) “Ibu tidak bermaksud seperti itu Tia, seharusnya                      kamu menyadari keadaan kakakmu yang kurang beruntung dari kamu.”
Tia          : “Memang kenyataannya seperti itu bu. Ibu pilih kasih (melepaskan tangan ibu dan                                            meninggalkan mereka)
Sari         : “Ibu, Sari merasa selama ini Sari hanya menjadi beban di keluarga ini”
Ibu         : “Mungkin itu hanya pemikiranmu saja Sari.”
Sari         : “Tapi bu……”
Ibu         : “Sssssttttt” (sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sari)
(musik…….)
Tia          : “Ibu….. Tia mau makan”
Sari         : “ Ibu sedang keluar dek… mau kakak ambilkan?”
Tia          : (dengan nada sinis) “Emang kamu bisa?”
Sari         : “kakak akan coba, kamu tunggu sebentar ya?” (meninggalkan Tia)
Tia          : “emm… lama banget sih! Mana perutku sudah laper. Memang repot punya kakak yang tidak                      bisa diandelin. Bisanya Cuma buat orang emosi aja!”
                 Cepetan dong………
Sari         : “Iya dek”
(terdengar suara piring terjatuh)
Ayah      : “Suara apa itu?” (menghampiri Tia dan Sari)
Tia          : “Ini nih yah, Sari jatuhin piring lagi”
Sari         : (memberesi makanan yang tumpah)
Ayah      : “Dasar anak tidak berguna (sambil menampar Sari) Bawa piring aja sampai jatuh, memang                           tidak becus kamu!”
Sari         : (menangis) “Maafin Sari yah…”
Tia          : “Dasar cacat!!!”
Sari         : “Kenapa sih Ayah sama Tia tidak suka dengan Sari?? Aku juga ingin dapat kasih sayang dari                           Ayah!”
Ayah      : “Bagaimana Ayah bisa menyayangimu? Coba pikir! Apa yang bisa ayah banggakan dari kamu?                    (menunjuk kepala Sari). Padahal dlu ayah sangat berharap kamu menjadi anak kebanggaan                                  ayah. Tapi apa kenyataannya sekarang?”
Sari         : “ Maafin Sari yah, maafin Sari…. Sari sudah mengecewakan ayah.”
Tia          : “Tia mau kebelakang yah, mau makan.”
Ayah      : (hanya diam)
Sari         : “Kalau selama ini Sari hanya menjadi beban di keluarga ini, Sari akan pergi. Biar ayah tidak                             merasa terganggu dengan kehadiran Sari.”
Ayah      : “Mau kemana kamu?”
Sari         : “Ayah tidak usah melarang Sari pergi, tidak ada gunanya Ayah memikirkan Sari.” (meninggalkan                 ayah)
Ayah      : “ Hey tunggu!! Jangan coba-coba keluar dari rumah ini. Memang kamu tahu apa diluar sana??”
Sari         : (berhenti sekejap) “Sari tidak tahu apa-apa. Yang Sari tahu hanya Ayah yang tidak suka denagn                                 kehadiran Sari.” (melangkah kembali)
Ayah      : “Dasar keras kepala!”
Tia          : “Sari mau kemana yah?”
Ayah      : “Ayah tidak tahu. Sudahlah kamu jangan tanya ayah terus, ayah pusing.”
Tia          : “Tapi yah… nanti kalau Sari tidak tahu jalan pulang, terus dia diculik orang bagaimana?”
Ayah      : “Tia!! Diam kamu!! (menatap Tia), ayah ini pusing! Ayah bingung. Kamu jangan menambahi                         beban ayah terus! Lagian, sejak kapan kamu peduli dengan kakakmu?”
Tia          : “Ayah jahat! Ayah sama seperti Ibu, selalu belain Sari”
Ayah      : “Kamu jangan seperti anak kecil”
Tia          : “Ayah dan ibu pilih kasih!” (masuk kamar)
(musik…..)
Ibu         : “Ayah mengapa melamun?”
Ayah      : “Tidak apa-apa. Ayah hanya sedang sakit kepala.”
Ibu         : “Ayah memikirkan Sari?”
Ayah      : “Tidak!!”
Ibu         : “Lalu mengapa ayah melamun?”
Ayah      : (sedikit marah) Sudah ayah bilang, ayah tidak apa-apa.”
Ibu         : “Ya sudah,,,,,, Ibu mau kebelakang sebentar, nanti ibu kembali.”
(musik….)
Ibu         : “Tia……………”
Tia          : “Iya bu..” (mendekat ke ibu)
Ibu         : “Kamu tahu kakakmu dimana? Sejak tadi ibu tidak melihatnya.”
Tia          : “Tia tidak tahu bu”
Ibu         : (memandang ayah) “ayah tahu kan?”
Ayah      : “Ayah tidak tahu! Sudah jangan sebut nama itu lagi!”
Ibu         : “Ayah kenapa sih? Apa ayah tidak memikirkan Sari? Dari dulu ayah tidak pernah                                                 memperhatikan Sari.”
Ayah      : “Ibu pikir, ayah tidak memikirkan perasaan Sari? Apa ibu tidak ingat? Siapa yang menggendong                                  Sari tengah malam kerumah sakit, saat dia masih kecil? Apa ibu tidak ingat, siapa yang mati-                           matian mencari Sari saat dia tidak pulang?”
Ibu         : (memalingkan muka)
Ayah      : “Sudah lama ayah bersabar bu, ayah mencoba menerima keadaannya, tapi ayah tidak bisa!”
Ibu         : “Kenapa tidak bisa yah?”
Ayah      : “Entahlah”
Ibu         : “Sekarang Sari dimana?”
Ayah      : “Dia keluar dari rumah”
Ibu         : “Kapan?”
Tia          : “Tadi ayah yang mengusir Sari bu”
Ayah      : “Apa-apaan kamu? Mengapa kamu menyalahkan Ayah? Dia keluar karena kemauannya”
Ibu         : “Apa yang terjadi tadi? Jelaskan pada Ibu Tia”
Tia          : “Tadi Sari mengambilkan makan Tia, tapi piringnya malah jatuh, terus ayah memarahi Sari.”
Ibu         : “Lihat apa yang ayah lakukan! Gara-gara Ayah, sekarang Sari keluar dari rumah. Kenapa ayah                       tidak melarangnya? Sekarang kita cari dimana yah?” (ibu mulai gelisah)
Tia          : “Bu……….”
Ibu         : “Diam kamu Tia! Puas kamu melihat kakakmu menderita!”
Tia          : “Tahu ah bu, Tia terus yang disalahkan.” (meninggalkan ibu)
(musik…………….)
Ibu         : “Sari… kamu dimana nak? Pulanglah….. Ibu kangen sama kamu, (menangis). Sari, ibu janji suatu                saat nanti kita akan melihat bintang bersama, malam ini tak akan terulang lagi Sari, bintang                                 pada malam ini akan jauh lebih indah besok, setelah kau pulang ke rumah ini nak.. Ya Allah,                               lindungilah anakkku…….”
Ayah      : “Bu, ayah minta maaf. Ayah menyesal, seharusnya ayah tidak berbuat seperti itu pada Sari.”
Ibu         : “Sudahlah, ayah tak perlu menyesali. Ini semua sudah terjadi, sekarang yang harus kita pikirkan                 bagaimana caranya agar Sari bisa kembali.”
Tetangga             : (menggendong sari) “Pak Tadi saya menemukan Sari terkapar di pinggir jalan. Entah                                       apa yang dia lakukan, jadi saya memutuskan untuk membawa dia pulang.”
Ibu         : “Ya ALLAH Sari… kamu kenapa nak? Yah… anak kita kenapa ini? (sambil menidurkannya di                             lantai)
Ayah      : “Maafin ayah Sari, ayah selalu membuatmu sedih. Ayah…… (menangis), ayah memang tidak                        berguna! Kau boleh membunuh ayah, bunuhlah ayah sekarang Sari.
Tia          : (menangis) “Kak….. kak Sari…. Dengarkan suara Tia kak. Tia juga sayang sama kakak, kakak                           sayang kan sama Tia??? Sekarang bangun kak, kakak tidak boleh seperti ini….”
Ibu         : “Sabar ayah, Tia. Ini ujian untuk keluarga kita. Dan Sari pasti memafkan kalian.”
Tetangga             : “Benar pak Toni, Sari akan lebih sedih jika lihat kalian menangis
Sari         : “Ayah,,,,,,Ibu,,” (mulai sadar)
Ayah dan Ibu     : “Iya nak, kami disini”
Ayah      : “Ayah akan selalu menemanimu nak.”
Sari         : “Ayah,,,, maafin Sari..”
Ayah      : “Kamu tidak perlu minta maaf Sari, ayah yang salah, ayah yang membuat kamu seperti ini.”
Sari         : (tersenyum sambil menguusap air mata ayah) “Ayah jangan menangis ya…. Ayah, Tia mana?
Tia          : “Kak ini tia,,,,,,,,, maafin Tia juga ya kak.”
Sari         : (menganggukkan kepala) “Kenapa kalian semua menangis? Apa yang terjadi pada Sari bu?
Ibu         : “Kamu ditemukan bu Priyo dipinggir kalian dalam keadaan pingsan, apa yang terjadoi                                     dengnmmu nak? Katakan pada ibu”
Sari         : “Siapa yang membawa Sari pulang bu? Biarkan Sari pergi dari rumah ini”
Ayah      : “Jangan berkata seperti itu Sar, sekali lagi tolong maafkan ayah, ayah telah menyesali                                     perbuatan yang telah ayah lakukan kepadamu nak..”
Ibu         : “Sari jangan pergi……….. ibu tidak ingin kamu seperti ini lagi nak..”
Ayah      : “Iya Sari, mulai sekarang ayahakan selalu menyayangimudan menerima kekuranganku
Sari         : “Terimakasih ayah…… ibu…………..
(mereka pun berpelukan)