Kamis, 11 Oktober 2012

Asal Usul Desa Dorokandang


            Pada waktu tanah jawa masih dijajah oleh kompeni belanda, dan para pemimpin sebuah kerajaan yang tidak mau membantu pemimpin belanda Mereka dianggap oleh belanda sebagai musuh mereka. Sewaktu belanda singgah di kabupaten lasem dan pemimpin kabupaten lasem yang bernama Panji Margono, beliau masuk dalam daftar pemimpin yang tidak mau menurut atau membantu kompeni belanda. Karena itu beliau menjadi musuh kompeni belanda sampai beliau dikeluarkan dari kabupaten lasem dan diasingkan di desa Manunggal bersama rakyat-rakyat kecil.
            Semenjak Panji Margono diasingkan dan beliau menyamar menjadi rakyat kecil, beliau bersama anak buahnya atau para prajurit yang ikut diasingkan karena mereka membela Panji Margono itu membuat sebuah desa kecil (padepokan/pondok) di pinggiran sungai Sambong. Semakin lama semakin banyak orang yang ikut menghuni disekitar desa kecil  (padepokan/pondok) itu. Panji Margono bersama rakyat-rakyat yang lainnya hidup rukun dan gotong royong sehingga membuat suasana di tempat itu terlihat tambah damai dan ramai. Semenjak tempat itu atau desa kecil itu terlihat bersih dan asri, dengan pemimpin Panji Margono bersama ki Mursada pengikut Panji Margono yang sangat setia kepada Panji Margono. Suatu hari para warga bersama-sama dengan panji Margono dan ki Mursada mengadakan kerja bakti.
            Pada waktu para warga sedang membersihkan semak-semak belukar. Di sekitar semak-semak belukar itu terdapat sebuah pohon besar yang orang-orang sekitar itu menyebutnya dengan pohon Doro. Ki Mursada bersama para warga lain membersihkan dahan-dahan dari pohon tersebut yang sangat rimbun itu menjadi pohon yang sangat asri. Setelah pohon tersebut dibersihkan, kemudian disekitar pohon tersebut diberi oleh para warga pagar dari bambu hingga menjadi sebuah kandang. Setelah Panji Margono bersama para warga lain selesai membersihkan tempat itu mereka semua merasa sangat lelah karena seharian membersihkan semak-semak belukar. Kemudian mereka semua beristirahat dibawah pohon doro tadi. Disekitar tempat para warga beristirahat, panji Margono juga terlihat lelah dan duduk bersama dengan warga lain. Disela istirahat para warga, Panji Margono berkata kepada para warga yang berbunyi “ hey, para rakyatku kalian ingat-ingat jikalau besok dengan bergantinya jaman dan jaman pun lebih baik. Sebagai pengingat kalian semua tempat ini dan sekitarnya saya namakan DOROKANDANG”. Sejak saat itu dan sampai sekarang tempat itu bernama desa Dorokandang.

3 komentar:

  1. Iku tenan tah dek? berarti dukuh terawal dari desa dorokandang iku dukuh sambong? lha trobayan dan narukan? Narukan banyak disebut dalam naskah, Trobayan mungkin bergeseran pelafalan dari kata Talbaya, gelar bagi Mbah Panji Margono. Tal=pohon yang menghasilkan legen dan daun lontar(ron tal), baya=bebaya/bahaya. Dulu, Talbaya sampai Karangpace (utara Pasar) dikenal sebagai rawa yg penuh pohon Tal, sementara Narukan dari dulu dikenal sebagai ladang Padi Gaga (yg menghasilkan beras jenis krotog). Nama Dorokandang sendiri belum ada & masih jadi kontroversi, mari kita dedah bersama. wkwkwkwk :)

    BalasHapus
  2. eh iya. itu kamu dpt kisah darimana dek/kak? e nek mnwo bisa jadi rujukan budaya lesan/tulisan :) Salam Lestari

    BalasHapus
  3. itu saya dapat kisah dari seorang dalang, kalau ndak salah rumahnya karanganyar...
    untuk kebenarannya saya juga belum tau, tapi menurut orang tua, ya begitulah,, hhe... kan waktu itu saya belum lahir kak... wkwkwkk

    BalasHapus